Penelitian & Rekayasa Ilmiah dalam Bingkai Moral dan Etika

Penelitian & Rekayasa Ilmiah dalam Bingkai Moral dan Etika

Penelitian & Rekayasa Ilmiah dalam Bingkai Moral dan Etika – Pada saat Domba bernama Dolly hendak di kloning, ribuan orang terutama aktivis keagamaan ramai-ramai mengecamnya. Kloning pada makhluk hidup di nyatakan tindakan yang tercela, bahkan melanggar hukum Tuhan dan prinsip dasar kemanusiaan itu sendiri. Akan tetapi peneliti jalan terus, rekayasa ilmiah dalam bidang biologi molekul yang hendak mengawinkan gen manusia dengan hewan juga jalan terus, seperti yang sering dikatakan, batas ilmu adalah langit, tidak ada yang bisa mencegahnya termasuk agama-dan moralitas manusia.

Walau begitu, para etik juga ada benarnya. Jika penelitian dan rekayasa ilmiah tidak mengindahkan tujuan kemanusiaan, tujuan untuk bertahan hidup, serta membangun masyarakat masa depan yang lebih baik, maka itu sama saja dengan bunuh diri. Pengekangan memang tidak boleh terjadi, tetapi para ilmuwan juga harus mengenal batas-batas tertentu yang di namakan dengan konsekuensi. Tidak ada rekayasa ilmiah tanpa ada konsekuensinya.

Ambil contoh, pembuatan bom atom Tsar Bomba yang ratusan kali lipat daya ledaknya dari bom uranium di Hiroshima dan Nagasaki. Bom tersebut konon dibuat dengan batas pemikiran akan konsekuensinya, sehingga bom yang daya ledaknya melebihi Tsar Bomba tidak ada lagi yang berani membuatnya, karena planet bumi akan mengalami kerugian besar jika daya ledaknya melebihi bom tersebut.

Hal ini pula yang membuat ilmuwan tidak lagi antusias membuat program kloning manusia dalam skala industri, walau hal itu bisa dilakukan, karena akan membawa bencana sosial, berupa rasisme, perdagangan manusia, panen organ tubuh ilegal, atau perbudakan. So. Dewasa ini ‘moralitas’ sudah mulai diterapkan pada penelitian genetika.

Akan halnya, dibalik etika yang diterapkan, adanya pelaku politik terhadap etika agar dicari celahnya untuk disalahgunakan. Apalagi aplikasi rekayasa teknik yang tadinya dibiayai demi proyek kesejahteraan dan kemanusiaan, kadang melenceng menjadi perbuatan yang berlawanan dengan kesejahteraan bersama.

Misalkan perekayasa ilmiah yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, membiarkan virus berkembang biak di tengah masyarakat, lalu menimbun vaksin nya, saat korban makin banyak, panik menyebar maka produk vaksin yang dia jual akan laku dijual. Dalam rumor lainnya, bahkan ada yang sengaja membuat varian virus baru, demi menjual vaksinnya.

Hal inilah yang menjadikan etika dan moral begitu penting diterapkan dalam rekayasa ilmiah. Walau begitu, ‘moralitas agama’ atau ‘ideologi politik’ tidak boleh serta-merta memainkan peran apa pun dalam menentukan sifat atau arah penyelidikan ilmiah, dan dengan demikian sifat dan arah pembangunan dan kemajuan manusia dapat terjamin.

Mengapa demikian? Karena moralitas agama kadang berlawanan dengan semangat ilmu pengetahuan. Tidak jarang beberapa larangan keluar dari badan atau lembaga agama tertentu di mana larangan tersebut tidak terkait sisi etik atau moral, melainkan hanya salah kaprah atau ketakutan berlebihan akan suatu teknologi serta cara hidup baru, yang kadangkala gagal ditanggapi para rohanawan secara modern. Ini tentu saja menyulitkan, para perekayasa ilmiah dalam berkerja.

Jalan tengahnya sejatinya ada. Apa itu? Yakni perekayasa ilmiah yang berkerja professional namun juga seorang rohaniawan dalam kehidupan sehari-harinya. Contoh semacam itu kiranya banyak. Misalkan Pastor Gregor Mendel, seorang rohaniawan yang juga peletak dasar rekayasa genetis. Atau Ibnu Sina, seorang perekayasa medis yang juga adalah seorang ulama besar Islam. Contoh keduanya, telah memadukan kehidupan taat agama dengan kemajuan di bidang sains sama sekali tidak pernah berlawanan, malah perlu ditelusuri, jangan-jangan karena ketaatan agamanya mereka menjadi perekayasa ilmiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!