Tantangan Penelitian dan Rekayasa Ilmiah di Indonesia

Tantangan Penelitian dan Rekayasa Ilmiah di Indonesia

Tantangan Penelitian dan Rekayasa Ilmiah di Indonesia – Indonesia bisa menjadi negara maritim, agratis, serta industri sekaligus mengingat begitu besar potensi baik dari sumber daya alam maupun dari sumber daya manusia yang ada. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia memang berjalan memprihatinkan masih banyak tenaga pendidik di sekolah umum yang lebih mempersiapkan peserta didiknya untuk masuk surga dengan melupakan bagiannya dunia.

Namun, bukan berarti bahwa masa depan negara ini sudah habis. Ada secercah harapan di beberapa lini pendidikan, yang akhirnya melahirkan para peneliti, R&D, dan insinyur tangguh yang mau menjawab tantangan di bawah ini, di antaranya :

1. Tantangan Meningkatkan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur Indonesia disebut ketinggalan puluhan tahun dari negara maju, padahal dengan potensi yang ada Indonesia harus mampu meningkatkan infrastrukturnya. Oleh karena itu, mencetak lebih banyak para enginering, merupakan hal yang paling penting.

2. Tantangan energi. Ahli perminyakan kita bisa dikatakan banyak. Namun, kilang minyak serta pengeboran minyak kita begitu sedikit, teknologi offshore juga kurang diperhatikan. Akhirnya para ahli penting banyak yang lari ke luar negeri. Apalagi kebutuhan energi dalam negeri masih defisit hampir setengahnya.

3. Teknologi ramah lingkungan. Indonesia merupakan negara terbesar kedua yang membuang sampah plastiknya ke laut lepas. Artinya negara ini bisa dikatakan bertanggungjawab terhadap kepunahan biota laut, serta kepunahan ummat manusia di masa depan, harus diciptakan teknologi yang bisa mengelola sampah plastik agar tidak terbuang ke sungai utama lalu ke lautan lepas.

4. Mengidentifikasi sumber energi alternatif yang layak. Energi terbarukan di Indonesia itu tumplek blek, dari panas bumi, angin, arus laut, hingga bio fuel. Yang menghalangi nya adalah kekolotan serta perhatian minim dari semua pihak untuk menciptakan kebijakan tax spring, serta mencetak lebih banyak lagi ahli dibidang energi alternatif lewat program beasiswa.

5. Smart City. Kota harus mampu lebih efisien dari yang boros saat ini. Jutaan ton makanan terbuang sia-sia ke pembuangan sampah, sementara di wilayah Indonesia lain orang-orangnya ada yang kekurangan gizi. Hal ini harus mendorong para insinyur mengelola efisiensi kota, dari pola penempatan industri, konsumerisme, perkantoran, transportasi, hingga kependudukan lewat teknologi informasi.

6. Menjaga data pribadi, dan HAKI. Kebocoran sering terjadi, pekerjaan para ahli terbuang sia-sia karena adanya penyusup yang main curi hasil penelitiannya, lalu HAKI itu dipatenkan oleh negara lain, hal ini harus menjadi perhatian bersama para insinyur di bidang keamanan data penelitian.

7. Mengatasi perubahan iklim melalui inovasi teknik. Indonesia merupakan negara kepulauan yang mau tidak mau akan mengalami derita terbesar dari perubahan iklim. Kota-kota pinggir pantai akan menjadi teluk baru. Beberapa pulau akan lenyap dari peta, penduduk dari ribuan kepulauan kecil wajib direlokasi dan biayanya amat sangat besar. Lebih baik ikut berkontribusi nyata pada perubahan iklim dibandingkan menunggu negara besar bertindak,

8. Memberi makan populasi. Melalui inovasi bio-engineering dan pertanian yang mutakhir mestinya masalah ini bisa dipecahkan. Indonesia harus mampu melakukan swasembada pangan dan memberi makan rakyatnya dari pangan yang tercipta dalam kamar mereka sendiri. Artinya teknologi pangan lewat pot kecil harus digalakkan.

9. Pengembangan nanoteknologi & bio-engineering. Isu kesehatan mulai mengalami titik cerah dengan adanya teknologi stem cell yang akan mengurangi laju tol kematian dari penyakit yang mematikan, mulai jantung, kanker, ginjal, atau paru-paru. Tetapi, ahlinya masih sedikit di negeri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!