Apa Itu Penelitian dan Rekayasa Ilmiah?

Apa Itu Penelitian dan Rekayasa Ilmiah?

Apa Itu Penelitian dan Rekayasa Ilmiah? – Pada awalnya berupa kata, kata dibentuk sebagai upaya manusia menentukan kualitas lingkungan eksternal, agar manusia bisa bertahan hidup. Dari kata lalu muncul pendekatan [approaching], yakni bagaimana suatu kata bisa merangkum deretan istilah yang bisa menjelaskan suatu kejadian. Kejadian tersebut dapat di dekati melalui deretan kata yang mengartikulasikan entah secara biologis, psikologis, teknik, atau politik.

Dari pendekatan tiba lah riset, yakni melakukan penalaran, ujicoba, pencatatan, yang akhirnya berakhir pada suatu kesimpulan. Dari kesimpulan yang didapati, maka muncul rekayasa teknik. Upaya untuk melakukan sesuatu terhadap material yang ada disekeliling manusia agar terjadi perubahan lebih baik.

Setidaknya itulah gambaran evolusi manusia bersama mesin-mesin yang manusia ciptakan, dari mulai berpikir hingga akhirnya dibutuhkan teknologi untuk tujuan-tujuan tertentu. Peristiwa itu disederhanakan sebagai penelitian ilmiah dan rekayasa teknik. Sering kali diringkas lagi menjadi rekayasa ilmiah.

Dengan demikian penelitian dan rekayasa ilmiah, adalah proses sistematis untuk mempelajari dan membangun teknologi baru demi tujuan merancang suatu produk yang memudahkan hidup manusia. Dalam kasus lain memudahkan suatu kelompok dengan cara menghancurkan kelompok lain sesama manusia, misalkan pembuatan senjata, bom, dan agen kimia.

Perihal tentang tujuan rekayasa ilmiah untuk manusia terkadang masuk ke ranah etika yang terpisah. Pada praktiknya, rekayasa ilmiah terus dilakukan dalam koridor pencarian dan pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, tanpa perlu dimaksudkan demi tujuan-tujuan kemanusiaan.

Berbeda dengan penelitian ilmiah yang terikat kaidah filosofi. Penelitian teknik sama sekali tidak peduli dengan pertanyaan “bagaimana dunia bekerja”, melainkan bagaimana segala jenis “agen” dapat dibuat dan berfungsi praktis untuk tujuan tertentu. Meskipun basis penelitian semacam itu tetap melibatkan studi ilmiah tentang bagaimana dunia berkerja. Artinya para insinyur bekerja demi menciptakan solusi serta desain agar segala masalah-masalah dunia nyata yang kompleks ini bisa dipahami dan diatur sekehendak hati.

Mereka yang melakukannya biasanya disebut periset. Mereka berkumpul di dalam departemen R & D atau bagian penelitian dan pengembangan. Bagian tersebut bertanggungjawab secara teknik serta mengacu pada upaya untuk benar-benar membangun produk akhir; mereka memulai dengan tahap pengembangan, serta masing-masing dengan berbagai tantangan serta tingkat kesiapan, prototipe, ujicoba, serta segala kemungkinan yang diperlukan agar suatu desain agen berhasil berkerja dengan baik.

Apa yang mereka lakukan, selalu di mulai dari masalah. Artinya mereka dibentuk karena adanya masalah, kadangkala masalah itu bukan masalah, melainkan dimasalahkan dengan pertanyaan ambisius, atau keinginan manusia untuk lebih maju. Kemudian, dibuat langkah pertama dalam menciptakan solusi untuk masalah yang diberikan dalam penelitian, di mana pengembangan teknik adalah belajar tentang masalah itu sendiri dan bagaimana solusinya agar ada material yang bisa dibentuk lalu berfungsi.

jika sudah ada produk yang ada di dunia lalu hendak melakukan penyempurnaan, maka R & D terlibat merancang produk baru yang lebih baik lagi dari yang sudah ada. Hal ini kerap terjadi dalam persaingan industri teknologi tinggi. Persaingan ini juga menjamin kemajuan rekayasa ilmiah. Hal ini sama seperti persaingan bisnis judi bola yang dilakukan antara para situs agen judi online yang saling melakukan persaingan dalam memberikan pelayanan dan penawaran kepada para member judi online didunia maya dan situs yang terbaik akan terus dicari.

Jika tidak ada produk serupa yang ada, atau tidak belum ada teknologi itu sebelumnya, langkah ini memerlukan terobosan baru dalam penelitian matematika, fisika, atau biologi. Contohnya keinginan untuk membuat robot dalam skala bakteri atau robot nano yang ukurannya seperti bakteri. Terdengar mustahil, tapi itulah tantangan dalam penelitian dan rekayasa ilmiah. Batasnya adalah langit itu sendiri.

Pengembangan dari Rekayasa Ilmiah yang Terus Dilanjutkan

Pengembangan dari Rekayasa Ilmiah yang Terus Dilanjutkan

Pengembangan dari Rekayasa Ilmiah yang Terus Dilanjutkan – Berbicara mengenai rekayasa ilmiah membawa pikiran pada berbagai penelitian yang terus dilakukan. Secara bersamaan manusia juga mengalami perkembangan cukup signifikan pada proses penciptaan teknologi. Beberapa waktu lalu salah satu ahli menyatakan bahwa di era modern manusia kian menunjukan eksistensi diri secara maksimal. Mereka dengan mudah mempertanyakan dan memberi jawaban tentang berbagai hal. Jika dibandingkan dengan abad sebelumnya.

Tentu saja fenomena tersebut baru mulai mengakar di abad ke-21. Pertumbuhan kognisi ini dinilai sebagai dampak dari pertumbuhan teknologi yang semakin lejit. Dimana modernisasi membuat informasi lebih mudah dicapai. Bahkan mobilitas manusia berjalan dengan mudah. Seakan mereka tidak lagi memikirkan mengenai jarak tempuh yang harus dilalui. Kecanggihan tersebut semakin menjadi-jadi ketika lahir golongan dari manusia dengan karakter pemikir.

Lewat mereka setiap keingintahuan dimunculkan dalam bentuk penelitian serta rekayasa ilmiah populer. Kecenderungan perubahan ini tentu saja tidak terjadi begitu saja. Terdapat alasan mendasar kenapa manusia berhasil sampai pada taragf seperti sekarang. Pada hakikatkaya manusia lahir dengan rasa keingintahuan yang lebih. Namun, karena tak terbiasa untuk bertanya. Kebanyakan dari orang tua hanya patuh dan menjalankan perintah. Mereka sibuk mengerjakan apa yang sudah sepatutnya dikerjakan.

Pada tahap ini manusia sering dikategorikan sebagai level awal. Selanjutnya, manusia mulai berkembang. Mereka tidak segampang itu percaya dan menjalankan perintah. Namun, pada level kedua ini tipe manusia yang ingin tahunya tinggi belum terwujud secara sempurna. Nah, baru pada level ketiga, mereka telah berevolusi menjadi manusia yang lebih berani. Kemampuan kognitif yang dimiliki menjadi bahan pertanyaan serta memunculkan kemampuan keberanian untuk speakup.

Kembali lagi pada teori rekayasa ilmiah yang berarti memanipulasi gen organisme menggunakan sistem bioteknologi. Pengertian singkat tersebut sedikit menerangkan tentang ranah kompleks yang dimiliki oleh dunia ilmiah. Mereka yang berada dibelakangnya harus benar-benar profesional serta mempuni pada bidangnya. Belum lagi mengenai keterlibatan penggunaan teknologi super canggih. Komponen ini mau tidak mau harus tampil sebagai alat penunjang keberhasilan uji coba.

Sejak awal kemunculannya ranah itu seringkali dikaitkan dengan gagasan yang kurang masuk akal. Sebut saja, bagaimana konsep kloning manusia. Dimana beberapa ahli menyatakan tentang keinginannya untuk menghidupkan lagi orang yang telah meninggal. Meskipun teori serta ujicoba pernah dilakukan. Tetap saja gagasan tersebut bukan satu hal yang rasional untuk diwujudkan. Selanjutnya, mengenai ungkapan dari peneliti Cina yang menyatakan mengenai kemungkinan sesama gender mampu melahirkan anak.

Konsep itu diambil karena ia melakukan penelitian terhadap dua tikus jantan yang berhasil diperanakan. Walaupun seperti itu, sampai sekarang rekayasa ilmiah ini belum melibatkan manusia. Tepat, sang peneliti sendiri menyatakan tentang perlunya studi lanjut terkait gagasannya. Berikutnya yang juga menghentak masyarakat dunia ialah pernyatan dari Ilmuwan Australia yang menemukan hewan yang hidup terlama di bumi. Pada dasarnya penelitian mengenai hewan ini sudah lama dilakukan.

Namun, baru berhasil terselesaikan belum lama ini. Penemuan tersebut tentu menjadi kabar yang cukup menyenangkan. Tidak berhenti disini karena beberapa waktu lalu masyarakat dunia kembali diingatkan dengan mega observasi yang dilakukan. Terkait keinginan manusia untuk tinggal di Mars. Dimana Perusahaan IDN Poker yang bekerja sama dengan Badan Antariksa Italia menyatakan bahwa mereka berhasil mendeteksi adanya sumber air di planet kemerahan tersebut. Artinya, kemungkinan Mars menjadi tempat hidup manusia kian besar. Bagaimana apakah Anda tertarik untuk mendalami tentang penelitian dan rekayasa ilmiah?

Penelitian & Rekayasa Ilmiah dalam Bingkai Moral dan Etika

Penelitian & Rekayasa Ilmiah dalam Bingkai Moral dan Etika

Penelitian & Rekayasa Ilmiah dalam Bingkai Moral dan Etika – Pada saat Domba bernama Dolly hendak di kloning, ribuan orang terutama aktivis keagamaan ramai-ramai mengecamnya. Kloning pada makhluk hidup di nyatakan tindakan yang tercela, bahkan melanggar hukum Tuhan dan prinsip dasar kemanusiaan itu sendiri. Akan tetapi peneliti jalan terus, rekayasa ilmiah dalam bidang biologi molekul yang hendak mengawinkan gen manusia dengan hewan juga jalan terus, seperti yang sering dikatakan, batas ilmu adalah langit, tidak ada yang bisa mencegahnya termasuk agama-dan moralitas manusia.

Walau begitu, para etik juga ada benarnya. Jika penelitian dan rekayasa ilmiah tidak mengindahkan tujuan kemanusiaan, tujuan untuk bertahan hidup, serta membangun masyarakat masa depan yang lebih baik, maka itu sama saja dengan bunuh diri. Pengekangan memang tidak boleh terjadi, tetapi para ilmuwan juga harus mengenal batas-batas tertentu yang di namakan dengan konsekuensi. Tidak ada rekayasa ilmiah tanpa ada konsekuensinya.

Ambil contoh, pembuatan bom atom Tsar Bomba yang ratusan kali lipat daya ledaknya dari bom uranium di Hiroshima dan Nagasaki. Bom tersebut konon dibuat dengan batas pemikiran akan konsekuensinya, sehingga bom yang daya ledaknya melebihi Tsar Bomba tidak ada lagi yang berani membuatnya, karena planet bumi akan mengalami kerugian besar jika daya ledaknya melebihi bom tersebut.

Hal ini pula yang membuat ilmuwan tidak lagi antusias membuat program kloning manusia dalam skala industri, walau hal itu bisa dilakukan, karena akan membawa bencana sosial, berupa rasisme, perdagangan manusia, panen organ tubuh ilegal, atau perbudakan. So. Dewasa ini ‘moralitas’ sudah mulai diterapkan pada penelitian genetika.

Akan halnya, dibalik etika yang diterapkan, adanya pelaku politik terhadap etika agar dicari celahnya untuk disalahgunakan. Apalagi aplikasi rekayasa teknik yang tadinya dibiayai demi proyek kesejahteraan dan kemanusiaan, kadang melenceng menjadi perbuatan yang berlawanan dengan kesejahteraan bersama.

Misalkan perekayasa ilmiah yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, membiarkan virus berkembang biak di tengah masyarakat, lalu menimbun vaksin nya, saat korban makin banyak, panik menyebar maka produk vaksin yang dia jual akan laku dijual. Dalam rumor lainnya, bahkan ada yang sengaja membuat varian virus baru, demi menjual vaksinnya.

Hal inilah yang menjadikan etika dan moral begitu penting diterapkan dalam rekayasa ilmiah. Walau begitu, ‘moralitas agama’ atau ‘ideologi politik’ tidak boleh serta-merta memainkan peran apa pun dalam menentukan sifat atau arah penyelidikan ilmiah, dan dengan demikian sifat dan arah pembangunan dan kemajuan manusia dapat terjamin.

Mengapa demikian? Karena moralitas agama kadang berlawanan dengan semangat ilmu pengetahuan. Tidak jarang beberapa larangan keluar dari badan atau lembaga agama tertentu di mana larangan tersebut tidak terkait sisi etik atau moral, melainkan hanya salah kaprah atau ketakutan berlebihan akan suatu teknologi serta cara hidup baru, yang kadangkala gagal ditanggapi para rohanawan secara modern. Ini tentu saja menyulitkan, para perekayasa ilmiah dalam berkerja.

Jalan tengahnya sejatinya ada. Apa itu? Yakni perekayasa ilmiah yang berkerja professional namun juga seorang rohaniawan dalam kehidupan sehari-harinya. Contoh semacam itu kiranya banyak. Misalkan Pastor Gregor Mendel, seorang rohaniawan yang juga peletak dasar rekayasa genetis. Atau Ibnu Sina, seorang perekayasa medis yang juga adalah seorang ulama besar Islam. Contoh keduanya, telah memadukan kehidupan taat agama dengan kemajuan di bidang sains sama sekali tidak pernah berlawanan, malah perlu ditelusuri, jangan-jangan karena ketaatan agamanya mereka menjadi perekayasa ilmiah.

Prototipe, Landasan Dalam Kemajuan Penellitian dan Rekayasa Ilmiah

Prototipe, Landasan Dalam Kemajuan Penellitian dan Rekayasa Ilmiah

Prototipe, Landasan Dalam Kemajuan Penellitian dan Rekayasa Ilmiah – Anda tentunya pernah mendengar kisah tentang mobil yang bisa ngomong di televisi dalam serial Knight Rider. Atau helikopter tempur yang bisa melaju melebihi kecepatan suara, setara dengan pesawat tempur generasi ketiga seperti F18, Mig 24, dalam serial Airwolf. Mobil yang bisa ngomong, dan helikopter dengan mesin jet itu sejatinya merupakan prototipe, dibentuk dan dikembangkan demi tujuan diperbanyak secara massal. Namun, namanya juga film, mereka berakhir menjadi alat tunggal yang tidak ada lagi produk sejenis dibuat selain mereka.

Padahal, yang namanya pengembangan produk dalam penelitian dan rekayasa ilmiah teknik biasanya merupakan proses berulang. Dengan kata lain, tidak mungkin untuk mengetahui dengan tepat seberapa baik suatu produk akan berfungsi bahkan ketika rencana desain terperinci disusun. Bahkan ada produk yang dirancang dengan baik malah tidak sempurna, dan memiliki titik lemah.

Hal inilah yang menjadi dasar diciptakannya prototipe, atau model kerja. Prototipe ini diciptakan khusus untuk “jadi bonyok” cut loose, atau expendable demi menguji ide-ide dasar yang mendekatkan diri pada model dengan hasil paling sempurna. Prototipe juga biasanya mengandung paradox, paling dinantikan, namun juga pada akhirnya paling tidak dianggap oleh pengguna akhir, kecuali oleh ilmuwan yang membuatnya ada.

Konsep prototipe berawal sejak era industri. Pada awal tahun 1600-an, orang mengacu pada bentuk pertama dan awal dari segala jenis mesin buatan manusia, sebagai “prototipe,” dan memiliki rasa “prototipe” sebagai standar perbandingan yang dikembangkan di masa tersebut. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, protos yang berarti “pertama” dengan kata typo, yang berarti “kesan.” Pada 1600-an, “prototipe” sering secara harfiah di artikan sebagai kesan pertama terhadap material yang telah dibentuk sesuai gambar rekayasa.

Prototipe dibentuk tidak dimaksudkan untuk dijual kepada pelanggan atau diproduksi secara massal sebagai produk akhir. Sebaliknya, mereka dibentuk untuk memberi para insinyur suatu peta akan gagasan yang lebih baik, tentang komponen atau material mana dari model yang telah ada yang perlu ditambahkan, agar mampu meningkatkan sang prototipe menjadi desain yang massal, aman, fungsional, dan mudah dilipatgandakan dalam suatu rantai produksi yang paling murah, semurah-murahnya.

Setelah serangkaian pengujian prototipe secara sistematis, para insinyur berupaya mendesain ulang produk berdasarkan informasi yang dikumpulkan selama pengujian. Mereka akan menyesuaikan perhitungan dan sedikit berikan sentuhan kecil, men-tweak atau mengubah beberapa komponen yang lebih lemah dari desain yang ada.

Tapi ada juga konsep produk yang tidak perlu melakukan pembaruan yang menunjukkan keunggulan produk prototype dari konsep genial. Misalnya, perusahaan mungkin ingin membuat ponsel yang lebih menjual dari yang ada di pasaran. Insinyur dan konsultan lalu akan membuat suatu prototype dari produk yang paling laku, lantas melakukan tweak/perubahan dari sisi remeh temeh, entah lekukannya yang berkesan seksi, eksotis, serta alasan yang tidak terkait keunggulan internal, melainkan hanya dikomodifikasi saja.

Tidak ada aturan untuk berapa banyak prototipe harus dikembangkan sebelum produk akhir siap; jumlahnya tergantung pada faktor-faktor seperti seberapa baru atau novel teknologi itu sendiri, apakah ada kemungkinan teknologinya cepat usang karena kecepatan penelitian dari produk pesaing? Dan apakah produk tersebut dapat menimbulkan risiko keselamatan atau lingkungan saat digunakan?

Setelah prototipe yang sukses telah dikembangkan, sebuah perusahaan judi online dapat menggunakannya sebagai produk dalam jangka terbatas untuk menguji respons pasar terhadap produk sebelum memasarkannya dalam skala besar.

Memahami Proyek Rekayasa Ilmiah

Memahami Proyek Rekayasa Ilmiah

Memahami Proyek Rekayasa Ilmiah – Kata Proyek Rekayasa Ilmiah bukanlah suatu istilah teknis. Melainkan dapat dirujuk pada satu dari tiga pengertian berikut. Pengertiannya bisa berarti [1] Suatu atau setiap proyek di mana ahli dan peneliti teknik memainkan peran besar, [2] proyek di mana proses desain teknik digunakan untuk dijadikan pusat dari proyek, dan [3] suatu proyek atau pekerjaan yang diawasi oleh seorang insinyur.

Dengan makna pertama, proyek rekayasa sering digunakan atau diterapkan pada proyek ilmiah atau proyek lain yang melibatkan rekayasa dalam beberapa cara. Misalkan, di mana sesuatu dibangun dari basic-nya, rekayasa di sini dipahami lebih longgar – artinya tidak ada penciptaan mengikuti proses desain teknik yang sudah ditentukan hasil akhirnya. Tahapannya lebih pada penelitian ilmiah atau science fair project dari para ahli teknik. Bagaimanapun pengetahuan akan metode ilmiah telah lama diajarkan di sekolah, sementara praktikumnya, atau upaya melakukan rekayasa kadang belum mendapat perhatian yang hampir sama sebagaimana pengajaran metode ilmiah.

Makna yang kedua dari proyek rekayasa mengacu pada proyek yang seperti yang pertama dalam segala hal, kecuali bahwa kali ini ada proses desain teknik yang dilibatkan untuk menciptakan suatu prototipe atau benda yang telah ada desainnya. Untuk memahami perbedaan antara makna pertama dan kedua dari proyek rekayasa, perlu untuk dipahami perbedaan mendasar antara penelitian ilmiah dan proses desain. Ini karena, penelitian ilmiah dan proses desain teknik memiliki kesamaan, tapi yang jelas perbedaan mendasarnya adalah tujuan nya.

Penelitian ilmiah melibatkan identifikasi pertanyaan yang dapat dijawab melalui penyelidikan; perancangan, dan melakukan ujicoba; menggunakan alat dan teknik yang tepat untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data; dan menggunakan pemikiran logis berkenaan dengan bukti demi mengembangkan deskripsi, model, penjelasan, dan prediksi, yang kemudian dapat dikembangkan lebih jauh. Jadi penelitian ilmiah berfokus pada menjawab pertanyaan pertanyaan yang akan memberikan pencerahan di lingkungan para ahli, demi pengembangan ilmu pengetahuan.

Sementara proses desain teknik melibatkan pendefinisiaan pada kebutuhan yang akan dicapai lewat project, melakukan penelitian latar belakang, menetapkan kriteria desain, menyiapkan desain awal atau rancangannya, membangun dan menguji prototipe, menguji dan mendesain ulang hingga pada dan penyajian hasil akhir yang bisa dimanfaatkan sehari-hari.

Yang ketiga, hampir tidak ada bedanya. Karena proyek-proyek rekayasa dari tipe ketiga juga menggunakan proses desain teknik dan fokus pada memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan. Selain itu, makna ketiga ini terkait dengan sistem kualifikasi teknik berjenjang. Insinyur harus dilisensikan mendapat gelar agar bisa dipercaya memimpin suatu proyek. Misalkan insinyur dengan gelar teknik mesin akan memimpin proyek pembuatan mesin, insinyur dengan gelar teknik listrik akan memimpin proyek kelistrikan.

Jenjang karir serta lisensi dan gelar itu memang bukan jaminan seseorang bisa memimpin proyek dengan baik, oleh karena itulah terdapat kualifikasi lain bagi para insinyur sebelum mereka bisa mendapatkan atau memimpin suatu proyek. Dalam hal ini pengalaman lebih di utamakan, bukan dari mereka yang memiliki ilmunya lewat jenjang pendidikan lebih tinggi, misalkan Ph.D atau pascasarjana lain dalam bidang teknik, belum tentu juga dapat dipercaya memimpin suatu proyek, jika belum memiliki pengalaman lapangan.

Dalam skema ini, di Amerika Serikat seorang Insinyur Pascasarjana tidak memiliki hak istimewa untuk mengambil semua proyek teknik. So. Tanggung jawab penuh untuk proyek-proyek teknik tidak dapat diasumsikan sampai seseorang telah mencapai tingkat Insinyur Profesional.

Praktik dalam Penelitian dan Rekayasa Ilmiah

Praktik dalam Penelitian dan Rekayasa Ilmiah

Praktik dalam Penelitian dan Rekayasa Ilmiah – Praktik-praktik dalam Penelitian dan Rekayasa Ilmiah menggambarkan perilaku yang dilakukan oleh para ilmuwan ketika mereka menyelidiki dan membangun model dan teori tentang dunia, alam, dan serangkaian praktik teknik kunci yang digunakan dalam merancang dan membangun model dan sistem.

Masyarakat ilmu pengetahuan menggunakan istilah praktik, alih-alih istilah seperti “keterampilan” agar menekankan bahwa tidak sekedar membutuhkan keterampilan untuk terlibat dalam penelitian/penyelidikan ilmiah atau science inquiry, melainkan juga membutuhkan pengetahuan yang khusus untuk setiap praktiknya.

Dalam hal ini perlu lebih dijelaskan dan diperluas lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “penyelidikan” dalam sains, berikut berbagai praktik kognitif, sosial, dan fisik yang serta-merta akan muncul dari persinggungannya. Adapula desain teknik yang metode nya mirip dengan penelitian ilmiah, walau ada perbedaan yang signifikan dari sisi tujuan.

Contoh paling tepat, penelitian melibatkan perumusan pertanyaan yang dapat dijawab melalui investigasi, sementara desain teknik melibatkan perumusan masalah yang dapat diselesaikan melalui desain. Lalu kiranya apa saja praktikum yang dilakukan pada saat orang melakukan penelitian, maupun desain teknik yang termasuk rekayasa teknik? Kita merangkumnya dalam beberapa poin berikut ini :

1. Mengajukan Pertanyaan dan Menentukan Masalah : Praktik sains adalah untuk bertanya dan terus melakukan peningkatan atau memperbaiki kualitas pertanyaan yang mengarah pada deskripsi dan penjelasan tentang bagaimana dunia berjalan, bagaimana alam dirancang dan bekerja, bagaimana mahluk-mahluk melakukan sesuatu, untuk tujuan apa. Serta pertanyaan-pertanyaan lainnya, yang dapat diuji secara empiris.

2. Mengembangkan dan Menggunakan Model : Praktik sains dan teknik pada akhirnya akan menggunakan dan membangun model sebagai alat yang berguna untuk mewakili ide dan penjelasan. Siapapun ilmuwan yang berkerja untuk mewujudkan atau menyatakan ide-idenya, akan membuat ide-ide itu praktis, terbukti, dan tampak di alam nyata. Alat-alat bantu yang mendukung perwujudan ini di antaanya : Diagram, gambar, replika fisik, representasi matematis, analogi, dan simulasi komputer.

Praktik dalam Penelitian dan Rekayasa Ilmiah

3. Merencanakan dan Melakukan Investigasi : Para ilmuwan dan insinyur merencanakan dan melakukan investigasi di lapangan atau laboratorium, di mana mereka bekerja secara full kolaboratif, maupun individual dalam tugas-tugas spesialisasi khusus. Investigasi dilakukan sistematis dan membutuhkan klarifikasi apa yang dianggap sebagai data dan mengidentifikasi variabel atau parameter.

4. Menganalisis dan Menafsirkan Data : Investigasi ilmiah menghasilkan data yang harus dianalisis untuk mendapatkan makna. Karena pola dan tren data tidak selalu jelas, para ilmuwan menggunakan berbagai alat [termasuk interpretasi grafis, tabulasi, analisis statistik dan visualisasi] untuk mengidentifikasi fitur dan pola penting dalam data. Ilmuwan mengidentifikasi sumber kesalahan dalam investigasi dan menghitung tingkat kepastiannya. Teknologi modern akan membuat upaya pengumpulan data yang lebih besar jauh lebih mudah, serta menyediakan sumber sekunder untuk analisis. Misalkan sebelum alat turring di ciptakan, data dipecahkan lewat kertas dan pena.

5. Menggunakan Matematika dan Pemikiran Terkomputasi : Mau dalam sains atau teknik, penggunaan matematika dan komputasi adalah mutlak. Keduanya sangat mendasar untuk mewakili variabel fisik dan ketersalinghubungannya. Keduanya digunakan untuk berbagai tugas seperti membangun simulasi; menganalisis data secara statistik; dan mengenali, mengekspresikan, dan menerapkan hubungan kuantitatif.

6. Membangun Penjelasan dan Merancang Solusi dan evaluasi. Produk judi online adalah penjelasan dan produk judi bola adalah solusi. Mereka juga harus terlibat dalam argumen dan pembuktiannya. Pada akhirnya mereka harus mampu mengevaluasi, mengkomunikasikan dan menjelaskan Informasi tentang produk permainan agen bola yang telah mereka dapatkan.

Itulah beberapa praktik yang menyusun penelitian dan rekayasa ilmiah.

Tantangan Penelitian dan Rekayasa Ilmiah di Indonesia

Tantangan Penelitian dan Rekayasa Ilmiah di Indonesia

Tantangan Penelitian dan Rekayasa Ilmiah di Indonesia – Indonesia bisa menjadi negara maritim, agratis, serta industri sekaligus mengingat begitu besar potensi baik dari sumber daya alam maupun dari sumber daya manusia yang ada. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia memang berjalan memprihatinkan masih banyak tenaga pendidik di sekolah umum yang lebih mempersiapkan peserta didiknya untuk masuk surga dengan melupakan bagiannya dunia.

Namun, bukan berarti bahwa masa depan negara ini sudah habis. Ada secercah harapan di beberapa lini pendidikan, yang akhirnya melahirkan para peneliti, R&D, dan insinyur tangguh yang mau menjawab tantangan di bawah ini, di antaranya :

1. Tantangan Meningkatkan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur Indonesia disebut ketinggalan puluhan tahun dari negara maju, padahal dengan potensi yang ada Indonesia harus mampu meningkatkan infrastrukturnya. Oleh karena itu, mencetak lebih banyak para enginering, merupakan hal yang paling penting.

2. Tantangan energi. Ahli perminyakan kita bisa dikatakan banyak. Namun, kilang minyak serta pengeboran minyak kita begitu sedikit, teknologi offshore juga kurang diperhatikan. Akhirnya para ahli penting banyak yang lari ke luar negeri. Apalagi kebutuhan energi dalam negeri masih defisit hampir setengahnya.

3. Teknologi ramah lingkungan. Indonesia merupakan negara terbesar kedua yang membuang sampah plastiknya ke laut lepas. Artinya negara ini bisa dikatakan bertanggungjawab terhadap kepunahan biota laut, serta kepunahan ummat manusia di masa depan, harus diciptakan teknologi yang bisa mengelola sampah plastik agar tidak terbuang ke sungai utama lalu ke lautan lepas.

4. Mengidentifikasi sumber energi alternatif yang layak. Energi terbarukan di Indonesia itu tumplek blek, dari panas bumi, angin, arus laut, hingga bio fuel. Yang menghalangi nya adalah kekolotan serta perhatian minim dari semua pihak untuk menciptakan kebijakan tax spring, serta mencetak lebih banyak lagi ahli dibidang energi alternatif lewat program beasiswa.

5. Smart City. Kota harus mampu lebih efisien dari yang boros saat ini. Jutaan ton makanan terbuang sia-sia ke pembuangan sampah, sementara di wilayah Indonesia lain orang-orangnya ada yang kekurangan gizi. Hal ini harus mendorong para insinyur mengelola efisiensi kota, dari pola penempatan industri, konsumerisme, perkantoran, transportasi, hingga kependudukan lewat teknologi informasi.

6. Menjaga data pribadi, dan HAKI. Kebocoran sering terjadi, pekerjaan para ahli terbuang sia-sia karena adanya penyusup yang main curi hasil penelitiannya, lalu HAKI itu dipatenkan oleh negara lain, hal ini harus menjadi perhatian bersama para insinyur di bidang keamanan data penelitian.

7. Mengatasi perubahan iklim melalui inovasi teknik. Indonesia merupakan negara kepulauan yang mau tidak mau akan mengalami derita terbesar dari perubahan iklim. Kota-kota pinggir pantai akan menjadi teluk baru. Beberapa pulau akan lenyap dari peta, penduduk dari ribuan kepulauan kecil wajib direlokasi dan biayanya amat sangat besar. Lebih baik ikut berkontribusi nyata pada perubahan iklim dibandingkan menunggu negara besar bertindak,

8. Memberi makan populasi. Melalui inovasi bio-engineering dan pertanian yang mutakhir mestinya masalah ini bisa dipecahkan. Indonesia harus mampu melakukan swasembada pangan dan memberi makan rakyatnya dari pangan yang tercipta dalam kamar mereka sendiri. Artinya teknologi pangan lewat pot kecil harus digalakkan.

9. Pengembangan nanoteknologi & bio-engineering. Isu kesehatan mulai mengalami titik cerah dengan adanya teknologi stem cell yang akan mengurangi laju tol kematian dari penyakit yang mematikan, mulai jantung, kanker, ginjal, atau paru-paru. Tetapi, ahlinya masih sedikit di negeri ini.